Beranda OPINI PILPRES 2019 , INDONESIA CARI PEMIMPIN ALA ERDOGAN

PILPRES 2019 , INDONESIA CARI PEMIMPIN ALA ERDOGAN

13
BERBAGI

PILPRES 2019 , INDONESIA  CARI  PEMIMPIN ALA ERDOGAN

Oleh : Mahis Muhammad

( jurnalist & pemerhati sosial masyarakat -Tinggal di Luwu Timur, Sulawesi Selatan)

Interval waktu sangat kasif sekali ,   penetapan Komisi Pemilihan Umum (KPU) membuka ruang pendaftaran pasangan Capres – Cawapres .  Waktunya terbilang kasif, yakni sepuluh hari , terhitung  tanggal 4 hingga 10 Agustus tahun ini .  Sejumlah nama digadang – gadang untuk maju dalam perhelatan akbar tersebut .  Negosiasi partai politik yang satu dengan lainnya semakin insten bangun komunikasi .  Sepuluh partai telah ikrar dukung PETAHANA ,bapak Ir.H.Joko widodo ,  empat partai lainnya  dikabarkan  berlabu dengan Garindra , yakni Demokrat , PAN dan PKS mengusung Bapak H.Prabowo Subianto .

Akan kah langgeng hijab qabol  gabungan partai pengusung ini ??

Tentu kita tunggu saja hasilnya !  Dalam politik tidak ada yang tak mungkin , kondisi politik saat ini masih sangat cair (pinjam kata para pengamat) .  Nama Capres diyakini sudah mengerucut ,  koalisi poros tengah agak susah terjadi , usungan koalisi PDIP dipastikan ke bapak H.Joko widodo (Presiden sekarang ) dan koalisi  Garindra mengusung bapak H.Prabowo Subianto , sekalipun keduanya pasangan ini saling intip soal siapa bakal jadi cawapres mereka .   Pemilik partai  kelihatan jinak – jinak merpati  dalam  tawar menawar irisan  kue  ” siapa dapat apa  ”  jadinya negosiasi amat alot .    Kecermatan Memilah dan memilih Cawapres itu amat penting buat sebuah perhelatan , apatalagi  mencari  pemimpin sebuah negara besar yang namanya Republik Indoneia .  Dapat di katakan ”  nasib negara dan  dua ratus lima puluh juta rakyat Indonesia ada dalam genggaman ” Sang Presiden.

Rakyat masih punya harapan dan optimisme , pilpres 2019  menghasilkan putra/putri terbaik diantara diantara mereka .  Ajang akbar lima tahunan kali ini masyarakat menyebutnya  ” Indonesia cari pemimpin Ala Erdogan ” .  Seperti diketahui , nama lengkap  Racep Tayyeb Erdogan adalah sosok pemimpin kekinian yang muncul membawa perubahan signipikan bagi negara Turki .  Jika merunut kebelakang penggalan sejarah Turki pasca kehalifaan KEMAL ATTATURK ,  Negara Turki menganut paham Sekuler .  Pihak pro maupun yang kontra tetap loyal pada aturan dan kebijakan ketika itu ,  pihak penguasa dari kalangan Sekuler menuding  bahwa  ” islam lah penyebab kemunduran negara Turki .  Berbagai sektor nyaris ambruk , nilai mata uang Lira ( mata uang Turki) mendekati titik nadir , begitupun sektor lain tidak berdaya .

Akibat kondisi yang tak menentu tersebut , Turki menanggung beban  dan tekanan ekonomi yang luar biasa tidak kurang 100 tahun .   Ditengah keterpurukan ,  Aktipis perubahan tidak mau tinggal  diam , tetap istiqomah berupaya ingin mengubah situasi , sehingga muncul  beberapa tokoh diantaranya nama Erdogan , Necmetin Arbakan .  Bersama Abdullah Gul ,  Erdogan mendirikan partai  ” Adelite ve kalkinma partisi “atau dalam bahasa Turki  semisal partai keadilan pembangunan  ala keindonesiaan .

Partai AKP mulai ikut pemilu tahun 2000 dan dinyatakan menang .  Pemilu tahun 2005 . Lagi – lagi menang telak 61 persen , atas kemenangan tersebut mengantar Erdogan dapat mengandemen undang -undang negara Turki  dan melakukan ISLAMISASI serta MENYERUHKAN UNTUK KEMBALI KEJALAN  ALLAH .

AKP berhaluan kanan moderat dengan ideologi yang konservatif dan memenangkan  327 kursi diparlemen  saat ini ,  maklumat Erdogan disambut positif ,   negara berpenduduk   mayoritas  muslim  99 , 8  persen  dari  80 -an  juta penduduk Turki

Dengan kebijakan pro rakyat tersebut ,  Erdogan menyulap Turki dari Gelap gulita menjadi negara terang benderang yang disegani dunia . Dari urutan 111 ekonomi dunia menjadi pringkat 16  dunia  , mengistabilkan nilai kurs  Lira  dan mendongkrak  perkapita  masyarakat , Nol pinjaman Luar negeri  bahkan  Turki masuk daftar 20  negara kuat (G.20).

Dari penggalan sejarah Turki , Racep Tayyeb Erdogan ,  punya obsesi besar bahwa tahun 2024 harus bangkit kembali  menjadi  negara memimpin dunia  .

Jika merunut kebelakang ,  indonesia pernah mengalami  kejayaan dibidang ekonomi ,  di erah orde baru misalnya , peratian  pemerintah ketika itu peningktan kesejatraan masyarakat melalui pembangunan ekonomi sosial dengan sistem ekonomi terbuka sehingga hasilnya meyakinkan pihak barat terhadap  ekonomi indonesia,  dengan  meletakkan  sistem  pemulihan ekonomi  dengan target yang jelas  dalam kerangka  Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita ) .  Presiden Suharto ketika itu  mencanangkan  tehnologi  dan kebijakan  industrialisasi  di tahun 1980 -an  mengalami perubahan  struktur dari negara agraris menuju ke negara semi  industri ,  sehingga pak Harto  menjadi  ” News Maker ” di kenang hingga akhir hayatnya .

Di erah kekinian ,  di kutip dari salah satu media menyebutkan ,  Angka kemiskinan di Indonesia di bawah dua digit , yakni  9 ,82 persen dari total penduduk Indonesia , sementara tahun 2017 yang lalu menunjuk angka 10 ,12 persen .  Untuk sebaran kemiskinan  perkotaan 7, 02 persen dan  angka kemiskinan   perdesaan   berdasarkan  (BPS  2018 )  menyebutkan  Sulawesi  13, 68 persen ,  Maluku – papua  29 , 15 persen ,  jawa 12, 8 persen , Bali – Nusatenggara 17, 8  persen  dan Sumatra  11, 66 persen  .   Hampir 70 persen  penduduk Indonesia  berada  di perdesaan , ketimpangan  sangat mencolok antara perdesaan  dan perkotaan .   Artinya , jika kita semua jujur menilai  rata – rata  di atas dua digit ( ekonom menyebutnya angka memprihatinkan ) .

Alhasil , Berkaca  dan belajar dari pasang – surut sejarah diatas ,   Penulis   berkesimpulan bahwa  ”  Benang  Merah ” suatu negara sangat ditentukan  oleh kemauan  politik ”  Partai – Partai berkuasa   ”  dan kebijakan  ”  siapa yang  Berkuasa ” .    Akhirul Qalam ,  Selamat jelang Pilpres 2019 ,   Selamat Indonesia memilih .   Tulisan ini   S e m o g a   b e r m a n f a a t (#)

loading...